DI BALIK MAKNA BESAR
LAHIRNYA TAHUN HIJRIYAH
Oleh : Amin Suharso
Guru Akidah Akhlak MTsN 6 Pasuruan
![]() |
| sumber gambar : www.twitter.com |
Lahirnya
tahun hijriyah tidak bisa dilepas dari peran besar sosok Kholifah Umar bin
Khottob. Pemimpin besar umat muslim yang satu ini memiliki banyak kepribadian
yang sangat agung. Pemikiran yang jauh ke depan melewati batas zamannya
haruslah menjadi teladan bagi semua pemimpin kaum muslimin. Cintanya yang luar
biasa terhadap islam dan kaum muslimin membuatnya selalu mencurahkan segala
yang ia miliki demi kemaslahatan serta kehormatan islam dan kaum muslimin.
Ada beberapa dimensi yang melatarbelakangi lahirnya
system kalender hijriyah ini. Ada dimensi spiritual, sosial, dan historis.
Ada spirit yang ingin dibangun oleh Kholifah Umar
pada saat itu. Pasca peralihan kepemimpinan dari kholifah Abu Bakar kepada
kholifah Umar, system dan manajemen pemerintahan masihlah sangat sederhana dan
tradisional. Maklum saja masa kepemimpinan kholifah Abu Bakar tidak lah lama,
hanya sekitar 2 tahun dan itu pun beliau lebih fokus pada penyelesaian
masalah-masalah disintegrasi kaum muslimin sehingga tidak sempat melakukan
perbaikan manajemen dan system pemerintahan yang lebih rapi dan tertib.
Sosok kholifah Umar yang genius, bijak, adil, tegas,
dan ngemong membuat masyarakat muslim terkendali secara sadar hingga mencapai
masa keemasan di hampir segala bidang.
Bersamaan dengan wilayah kekuasaan islam yang
semakin luas dengan problem sosial, hukum, dan politik yang juga semakin
kompleks mendorong sang kholifah untuk menciptakan
system pemerintahan dan manajemen administrasi yang lebih modern dan akuntabel.
Hal itu diawali dengan keinginan untuk membubuhkan tanggal pada semua surat
baik yang keluar atau pun yang masuk guna menjamin tertib administrasi.
Keyakinan bahwa jika segala kearifan islam digali
dengan sungguh-sungguh maka hal itu akan mengantarkan umat islam pada kemajuan
dan kagungan peradaban jauh melebihi peradaban orang-orang kafir sampai kapan
pun. Hal itu dijamin oleh Allah :
وَاَنْتُمُ اْلأَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
“kalian
lebih unggul (daripada orang-orang kafir) jika benar-benar beriman”
Pada ayat yang lain Allah juga menegaskan :
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ
بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ
“Kalian
adalah umat terbaik yang pernah diciptakan Allah untuk menjaga kehidupan
manusia. Kalian mengajak berbuat baik, mencegah kemungkaran serta beriman
kepada Allah”
Spirit inilah yang meneguhkan nasionalisme sang
Kholifah sehingga lebih memilih sikap untuk merekonstruksi kembali seluruh dalil-dalil
tentang system penanggalan baik yang ada dalam Al qur’an maupun Hadits yang
memang di jaman Rasululloh belum sempat direkonstruksi sehingga menjadi semuah
disiplin ilmu pengetahuan dari pada mempergunakan system kalender bangsa romawi
kuno yang biasa dipakai oleh kaum nasroni. Sebagai pemimpin beliau benar-benar
menanamkan sifat nasionalime tingkat tinggi, bangga sebagai umat Islam dan
bangga mempergunakan ide-ide kreatifitas kaum muslimin sendiri dibanding membeo
pada karya orang lain lebih-lebih orang kafir.
Sebagaimana tradisi bangsa arab dalam melakukan penghitungan
selalu diawali dari peristiwa yang dianggap sebagai peristiwa besar. Dipilihlah
peristiwa hijrahnya Rasululloh dan kaum muslimin dari Makkah ke Madinah sebagai
awal perhitungan dalam system kalender ini karena dianggap sebagai peristiwa
yang paling inspiratif dalam sejarah lahirnya Islam sebagai sebuah agama.
itulah peristiwa yang menjadi cikal bakal berdirinya sebuah negara yang
benar-benar mengaplikasikan wahyu Allah secara total dengan manusia paling
sempurna, Muhammad Saw. sebagai sang pemimpin tertinggi pada saat itu. Kecerdasan,
keadilan, ketegasan, kearifan, kesederhanaan, dan kemuliaan akhlak beliau membuat
sang Rasul menjadi figur pemimpin yang sangat diidolakan dan paling menginspirasi
bagi kaum muslimin.
Itulah yang kemudian di dalam tradisi NU disebut :
المُحَافَظَةُ عَلَى اْلقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَاْلأخَذُ
بِاْلجَدِيْدِ اْلأَصْلَحِ
“tetap
menjaga nilai-nilai luhur /tradisi-tradisi lama yang baik serta mengadopsi
hal-hal baru yang lebih baik”
Kholifah Umar ingin agar umat islam menyongsong
masa depan dengan ide-ide kreatif yang dapat mendorong majunya peradaban tetapi
di sisi lain tetap menjaga dan melestarikan semua nilai-nilai luhur yang diwariskan
oleh Rasululloh Saw. (Amin
S. 11/9/2018)

0 komentar:
Post a Comment